Notification

×

Iklan


 

Iklan


 

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kesiapan Penanggulangan Bencana, Forkopimda Jatim Gelar Apel Kontijensi Bencana Alam

Senin, 25 Oktober 2021 | 12.54.00 WIB Last Updated 2021-10-25T05:54:56Z

Forkopimda Jatim gelar apel kontijensi bencana alam di lapangan Kodam V Brawijaya, Surabaya, Senin (25/10/2021)

 

Laporan : Salsabiila
Editor : Budi Santoso | Kaperwil Jatim


SURABAYA,Harian7.com - Forkopimda Jawa Timur, gelar apel pasukan dan peralatan dalam rangka kontijensi kesiapan penanggulangan bencana alam tahun 2021 di Jawa Timur, di lapangan Kodam V Brawijaya, Senin (25/10/2021).


Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa pimpin apel kontijensi penanggulangan bencana alam didampingi Pangdam V Brawijaya, Mayjend TNI Suharyanto, Kapolda Jatim, Irjen Pol Nico Afinta, dan Kaskoarmada II Laksma TNI, Rahmad Jayadi menyiapkan pasukan dari TNI-Polri dan Stakeholder serta peralatan terkait untuk mengantisipasi terjadinya bencana yang diprediksi oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dimana puncak hujan di Jawa Timur pada bulan November sampai dengan Februari 2022.


Apel ini diikuti pasukan sebanyak 825 personel terdiri dari anggota TNI/Polri, BPBD, dan Dinkes Provinsi Jatim serta peralatan yang digunakan untuk penanganan bencana alam antara lain kendaraan Ambulance, Truk evakuasi korban, kendaraan Covid hunter, kendaraan Videotron Bidhumas, Genset darurat, perahu karet, tenda darurat BPBD dan Dinsos Provinsi Jatim serta dapur umum lengkap.


Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa mengatakan, seluruh stakeholder harus sudah membangun sinergitas dalam menyiapkan segala sesuatu yang terkait dengan adanya puncak hujan di bulan November sampai dengan Januari, Februari 2022 yang seringkali dikenal dengan bencana alam hidrometeorologi.


Hidrometeorologi bisa dikarenakan cuaca ekstrem, hujan dengan kapasitas air yang sangat tinggi yang kemudian berakibat pada longsor dan juga karena perubahan iklim global.


"Forkopimda di jajaran Pemprov, Forkopimda kabupaten /kota, seluruh relawan Basarnas, semua sudah harus bersinergi melakukan kesiapsiagaan dimana melakukan mitigasi untuk bisa mengantisipasi segala sesuatu yang harus kita lakukan, antisipasi secara komperhensif," ungkap Khofifah Indar Parawansa.


"Setiap bencana alam berpotensi terhadap bertambahnya kemiskinan, bahkan bisa sampai di atas 50%, 80% Jawa Timur ini berpotensi terhadap kemungkinan terjadinya bencana alam akibat hidrometeorologi," pungkasnya


Hal ini bisa berakibat pada rusaknya infrastruktur dan rumah, karena bisa juga berseiring dengan angin puting beliung, hujan, dan ada angin puting beliung, longsor dan seterusnya," imbuhnya.


Selain itu, Khofifah juga mengingatkan kepada setiap daerah yang dulu sudah mendapatkan pelatihan siaga bencana agar menyiapkan relawannya, karena secara scientific bisa di prediksi.


"Daerah yang dulu sudah pernah mendapatkan pelatihan di kampung siaga bencana atau kampung tangguh, ini sama-sama harus sudah menyiapkan relawannya, tapi kita harus tetap melakukan kesiapsiagaan karena memang secara scientific itu bisa diprediksi," tutupnya.

×
Berita Terbaru Update